Belajar dari Julaibib, Dianggap Rendah oleh Manusia namun Disayang Allah swt

- Senin, 4 Oktober 2021 | 07:44 WIB
Ilustrasi Doa (Muhammad_hasan/Pixabay)
Ilustrasi Doa (Muhammad_hasan/Pixabay)



Apa yang dilihat manusia, menjadi salah satu penilaian manusia tersebut. Jika dilihat buruk, maka buruk pula penilaiannya.

Itulah yang menjadi salah satu kekurangan dari banyak kekurangan lainnya dari manusia, sebagai makhluk yang tak sempurna.

Ada satu hadits Nabi SAW yang populer di kalangan umat muslim terutama bagi mereka para penuntut ilmu. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian." (HR. Muslim)Hadits ini sejalan dengan salah satu firman Allah dalam Alquran yang artinya, "Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu". (QS Al-Hujurat: 13)

Julaibib ra adalah salah sahabat Nabi Muhammad SAW yang luar biasa yang muncul dalam sejarah Islam. Selain itu, beberapa sahabat Nabi bertubuh besar, dan rendah hati, namun sangat terhormat atau pintar dalam beberapa hal. Julaibib ra adalah sahabat tercinta Nabi Muhammad SAW.

Lalu, Bagaimana Kisah Julaibib?

Bentuk Tubuh Julaibib

JulaIbib tidak tinggi atau tampan. Sebelum datangnya Islam, ia tidak dikenal sebagai pejuang yang gagah berani di medan perang. Dia adalah seorang yatim piatu, cacat, dan sangat pendek. Dia ditolak secara brutal oleh masyarakat, karena orang-orang pada waktu itu lebih mementingkan penampilan fisik dan status daripada integritas.

Kisahnya sangat penting dan banyak pelajaran yang bisa dipetik darinya. Ini menunjukkan kepada kita tentang bagaimana seorang manusia dapat direndahkan berdasarkan hal-hal yang dangkal. Hidupnya menjadi teladan dan harapan bagi jiwa-jiwa yang penuh dengan keputusasaan karena tidak sesuai dengan norma-norma yang ditetapkan masyarakat.
Garis Keturunan Julaibib

Kisahnya menyentuh hati banyak orang, bahkan hingga hari ini. Selain penampilan fisiknya, faktor penting lain dalam perlakuan buruk yang diterima Julaibib berkaitan dengan garis keturunannya. Silsilah adalah bagian penting dalam masyarakat Arab tempat dia tinggal, seperti halnya masih penting hari ini dalam banyak kasus.

Garis keturunan seseorang menentukan status seseorang dalam masyarakat. Penampilan fisiknya dan garis keturunannya yang tidak diketahui membuat orang-orang menjauhi dan menolaknya. Dia adalah orang buangan, yang menyebabkan dia banyak menerima penghinaan publik dan aib.

Menghadapi perlakuan menghina seperti itu, Julaibib tampaknya kesepian yang merindukan cinta dan kasih sayang. Saat dia memikul beban prasangka di pundaknya sejak dia lahir, persahabatan, cinta, dan kasih sayang menjadi asing baginya. Sering kali ada pertanyaan apakah pria ini akan merasakan belas kasih atau rasa hormat dalam hidupnya. Pertanyaan itu terjawab setelah masuk Islam.

Kehidupan baru Julaibib

Ia menjadi hamba Allah SWT dan sahabat tercinta Nabi Muhammad SAW. Dia mendapatkan rasa hormat dan kasih sayang dari Nabi yang mulia karena ketulusan, integritas, dan keyakinannya yang kuat. Julaibib mendapatkan kehormatan yang telah lama ia dambakan. Nabi Muhammad sangat peduli padanya dan peka terhadap kebutuhannya.

Dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi Muhammad SAW mendatangi seorang pria Ansar dan berkata, "Aku ingin menikahkan putri kalian" Pria itu menjawab dengan penuh semangat, "Ya Rasulullah, itu akan menjadi suatu kehormatan dan berkah".

Setelah itu, Nabi berkata, "Bukan untukku. Ku pinang putri kalian untuk Julaibib". Mendengar hal itu, laki-laki itu kaget dan ingin mendiskusikannya dengan ibu dari anaknya tersebut. Dia pergi ke ibu gadis itu untuk berdikusi.

Kemudian mereka memberitahukan kabar tersebut kepada sang gadis dan ia menjawab “Apakah ayah dan ibu hendak menolak permintaan Rasulullah SAW? Demi Allah, kirim aku padanya. Jika Rasulullah SAW yang meminta, maka pasti beliau tidak akan membawa kehancuran dan kerugian bagiku.”

Sang anak yang shalehah kemudian membaca Al Qurat surat Al Ahzab ayat 36 yang artinya, Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata."

Utsman bin 'Affan dan Ali bin Abi Thalib memberikan hadiah uang kepada Julaibib untuk membantu mengatur resepsi pernikahan, dan untuk membeli barang yang diperlukan. Maka Nabi menikahkan putri cantik Ansari dengan Julaibib yang pernah ditolak oleh seluruh masyarakat.

Sikap putri Ansari adalah seorang mukmin sejati. Sikap putri tersebut menunjukkan kepercayaan diri seorang wanita muslimah yang tidak bisa dipengaruhi oleh keinginan masyarakatnya.

Kehidupan dengan istri Julaibib sampai meninggal

Selain itu, fakta bahwa orang tuanya tidak ikut campur dalam keputusannya menjelaskan bagaimana Islam tidak menekan seorang wanita dan juga tidak mengabaikan haknya untuk memilih suaminya. Islam memberikan kebahagiaan yang pantas didapatkan Julaibib. Dia hidup bahagia bersama istrinya yang cantik sampai dia mati syahid.

Julebib yang sering diejek di bumi ternyata menjadi sosok yang dirindukan oleh para bidadari. Julaibib syahid di medan perang dan memenangkan gelar syuhada. Rasulullah SAW membungkus Julaibib dengan tangannya sendiri. Nabi SAW mendoakannya secara pribadi. Rasulullah SAW pun mendoakan Julaibib, “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Hal ini membuat sahabat menyadari bahwa mungkin ini adalah orang yang dipandang rendah di mata manusia, namun di mata Allah SWT ia adalah orang yang tinggi derajatnya. Setiap orang memiliki potensi yang sama untuk bertakwa. Siapapun bisa bertakwa dan menikmati kedudukan yang tinggi di mata Allah. Sama seperti Julaibib, yang sering dihina oleh manusia, namun di mata Allah, derajatnya tinggi.

Editor: Yama Pradhana Sumbodo

Tags

Terkini

X